Tale of Stories

My world in a patch of space



by
Indra El






2012

Page #12

Resolusi. Mungkin aku tak butuh. Lebih tepatnya tak memikirkan itu. Aku pernah menulisnya. Tapi hanya tergantung dilangit-langit, menguning, karat oleh waktu. Lalu jatuh, membaur bersama sampah dunia. Satu tahun yang lalu, dan sekarang itu pun datang lagi. Resolusi.

Tadi malam seseorang memperlihatkan kepunyaannya padaku. Resolusi bersama. Aku pikir itu berlebihan, berlebihan untuk mereka perlihatkan padaku. Aku lebih baik tak punya itu. Hanya membuatku semakin terjerembap dalam lingkaran diri.

Pernah suatu ketika seorang temanku hilang diri. Seperti aku sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Ingin ku katakan kita pernah dalam kondisi itu, tak terkecuali kau yang membaca ini.

Berbeda denganku, semua orang melihatnya, melihat kau hilang dari dirimu. Kau beruntung, mereka datang pada waktu yang tepat, dan menyelamatkanmu. Beda jauh denganku, yang tak terlihat sama sekali. Hingga aku pun menemukan sendiri jalanku, jalan gelap yang sempit. Gelap karena tak ada cahaya dari mereka yang kuharapkan. Sempit karena aku sendiri menanggungnya. Mereka melihatku baik-baik saja. Aku pun tak berharap memikirkanku.

Resolusi. Aku sudah mencoba menghindarinya. Tak mengingatnya, dan tak menyentuhnya. Tapi tangan ini tak bisa ku larang menyentuhnya. Satu sisi yang tak bisa ku kalahkan. Hanya ada beberapa orang yang tahu tentang ini, tapi mereka pergi begitu saja mencampakkan harapan yang ku taruh. Mungkin mereka berbuat baik, tapi aku tak menemukan kebaikan pada diriku yang sekarang.

Aku semakin terpuruk. Berusaha menggapai rasa sesal dalam diri untukku cabik-cabik. Semakin ku gapai, semakin ku tercabik. Tak ada yang peduli. Hingga ia datang, mengubah semua. Semua seolah terang dan lapang. Aku berseloroh sendiri, “Mungkinkah ini terjadi di dunia nyata?” Setauku hanya ada di Anime yang sering kubaca.

Read More

Two Face #3

Lima tahun yang lalu…

“Yuji! Kau mau kemana?! Tunggu!”

Dulu ada seorang perempuan yang selalu mengikuti langkahku. Jika kau bertemu dengannya, kau akan terpesona dengan kecantikannya. Tapi…ah, aku tak mau membuka rahasia orang. Mungkin kau coba sendiri untuk menemukan rahasia tersebut.

Hari ini hujan. Aku harus bergegas kembali pulang sebelum ibuku memarahiku. Hujan di kota London dapat membuat badanku panas selama tiga hari. Selama itu, aku tak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidurku.

Sekarang yang menjadi masalah adalah dia. Kenapa dia mengkikutiku terus?

“Kenapa kau mengikuti ku terus? Pulanglah! Aku sudah tak ada urusan apa-apa lagi. Aku harus pulang!”

“Kau curang mengatakan itu padaku waktu mengusir anak-anak nakal itu.”

“Apa yang kau bicarakan? Aku mengatakan apa yang harus aku katakan. Lagi pula itu hanya untuk menarik perhatian mereka. Oi, jangan-jangan kau anggap serius perkataanku tadi?”

Entah apa yang salah dari perkataanku, dia berhenti mengejarku. Entah apa yang terjadi padaku, seolah-olah bersamaan aku juga menghentikan langkahku. Aku melihat wajahnya tertunduk dalam. Ia membalik badannya, berjalan pelan meninggalkanku. Aku mengikuti langkahnya. Entah kenapa. Aku mempercepat langhkah. Entah kenapa dia juga memacu langkahnya. Lalu tangan ini meraih tangannya. Di bawah kilauan lampu jalanan, tetasan air hujan menjadi saksi hari itu aku mengatakannya.

“Yu-yu-ji..”

Dengan berkaca-kaca matanya memandangku. Rona merah wajahnya mengatakan perasaan ini tersampaikan. Aku tersenyum, mengusap air matanya yang mengalir dari bola matanya.

“Pulanglah…”, kataku padanya.

“Fu fu fu…”

“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”

“Yuji, bagaimana acting-ku barusan? Sempurna bukan? Fu fu fu…”

Read More

Two Face #2

Dua Wajah #2

“Nama ku Yuta Yusaku Nou Yuji. Kalian bisa memanggilku, Yuji”

Aku memperkenalkan diriku di depan kelas sesuai permintaan Igata sensei, dia guru matematika yang mengisi jam pagi di hari itu. Aku tak heran jika satu kelas menjadi ribut, berbisik-bisik mendengar namaku yang panjang. Dalam kondisi seperti ini, aku tetap menjaga agar terlihat tenang dan cool. Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan mereka.

“Oke! Yuji, silahkan kamu duduk, di sana masih ada tempat yang kosong.”

Aku berjalan ke belakang kelas, karena aku pikir sudah jelas tempat duduk yang kosong itu pasti di urutan belakang dan pojok. Aku berjalan dengan santai. Tanpa melirik kiri dan kanan. Kenapa orang-orang pada melihati aku?

“Yuji…”, Sensei memanggilku. Aku menoleh ke belakang, melihatnya. Sebutir keringat besar mengalir dari jidatnya. Efek komik. Dia menunjukkan bangku tempat dudukku. Aku melihat sekeliling kelas, hanya ada satu tempat duduk yang kosong. Di depan. D-E-P-A-N-? Ah sial! Kenapa aku malah berjalan ke belakang!

Read More

Adante

Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu untuk pertamakalinya?

 Hanya tempat ini!

Hanya tempat ini yang aku bersamanya tak pernah kunjungi. Entah kenapa di sini aku merasa tenang melihat keluar jendela hiruk pikuk jalanan. Bila aku di sini, mungkin sedikit aku tak ingat hari itu. meskipun aku tak bisa lari, sungguh lari dari memori bersamanya.

Ren, kenapa kau hadir dalam hidupku?

Kaca di depanku tak menjawab. Entah pada siapa pertanyaan itu aku lontarkan. Bisu. Bisu memagut.

Benar. Ini salahku.

Membiarkan hatiku menyayangimu. Mengembangkan tabir rinduku yang selama ini tertutup. Hingga kau datang, dan datang lagi. Bahkan sebelum aku sempat membawakan melodi untukmu, kau telah tiada.

Lihatlah. Semua begitu berbeda setelah kepergianmu. Tak ada lagi biola. Tak ada lagi cerita. Tak ada lagi tawa. Hari itu menjadi fragmen dalam benakku, tiap kali merasa bahwa ada titik dimana ia berhenti tapi tau bahwa saat itu ia belum selesai.

“Kenapa kau tak pernah jatuh cinta?”, tanyamu.

“Karena cinta itu dari hati. Sesuatu yang dari hati susah untuk dilupakan. Jika aku tak bisa melupakannya, seumur hidup aku tak kan pernah bahagia.”

Read More

Fate

Mengayuh dan mengayuh lagi. Rakitku sudah jauh dari tepian. Kini topan ada di depanku. Apakah aku harus menyerah, membiarkan topan itu membawaku? Aku belum bisa menyerah begitu saja. Aku masih bisa memutar layarku. Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan bangkai ini. Ia sudah membeku terlebih dahulu. Seperti sebelumnya dan sebelumnya lagi. Kincirku masih bisa berputar. Apa jadinya rakitku dihantam badai sebesar itu. Berantakan. Aku bagaimana lagi, hancur mungkin. Keringat dingin mengalir dari dahiku.

Aku melihat ke belakang, mungkin ada yang menarikku lagi. Menarikku hingga aku bisa berfikir topan itu akan ada sebelum aku berangkat. Mungkin bisa memberiku sedikit persiapan. Pelampung. Tabung oksigen. Tidak mungkin, tabung itu terlalu berat. Mungkin seharusnya aku membawa parasut yang lebih besar. Bukan. bukan parasut. Atau mungkin layar yang lebih lebar. Ah, tidak mungkin, tiang rakitku tak sanggup menyangganya. Lalu apa lagi? Keringatku menganak sungai.

Seharusnya aku sudah menyiapkan kematianku hari ini. Catatan perjalananku. Mungkin anak-anakku bisa membacanya. Bukan. Anak-anak mereka. Mungkin tak hanya catatanku, tapi juga pesan terakhirku bila aku mati nanti. Sudah jelas hari ini. Kala tak ada bahan olok-olok mereka, mungkin pesanku bisa menghibur mereka. Wajahku pucat. Setingkat lebih pucat.

Read More

Two Face #1

Dua Wajah #1

Ting tong. Ting tong.

Jam sekolah sudah berdentang. Menandakan jam pelajaran sudah di mulai. Aku masih berjalan dengan santi memasuki gedung sekolah. Sepi sekali sekolah ini. Aku menaiki tangga, dan menuju kelas ku. Aku tak langsung masuk, aku duduk di luar kelas menunggu Pak Guru datang, dan memanggilku masuk kelas. Ini adalah hari pertama ku datang ke sekolah ini. Sambil menunggu, aku menikmati kopi hangat yang tadi ku beli di depan sekolah. Tak ada siapa-siapa di lorong itu. Sepi sekali. Kemanakah siswa-siswanya? Pikir ku sejenak sambil membuka buku catatanku. Pada catatan ku jelas tertulis, kelas ku berada di gedung G lantai 4, kelas 2.A. Kepala sekolah meminta ku menunggu di sana. Aku merasa sedikit ganji dengan konsidi ini. Kenapa lorongnya sepi? Kemana gerangan anak-anak lainnya?

Plak! Sebuah suara menyadarkan ku dari pertanyaan. Di ujung lorong ada petugas kebersihan. Ia menjatuhkan ember pembersih miliknya. Aku menaruh kopi ku, dan mencoba mendekati petugas itu. petugas itu terlihat sedikit gugup telah membuat lantai lorong menjadi basah. Ia terlihat tergesa-gesa membersihkan air yang berserakan.

exscuse me…need help?”, kata ku.

“a..apa?”, jawabnya gugup.

Sepertinya ia tak mengerti bahasa ku. Seharusnya aku berbahasa jepang. Tapi karena aku belum terbiasa dengan bahasa itu, secara reflek aku menggunakan english.

“Maksud saya, perlu saya bantu?”, balas ku.

“Oh..tidak usah. Ini pekerjaan saya. Terima kasih.”

“Ah..tidak apa-apa”, aku mencoba mengambil embernya.

“Awas! Lantainya…!”

Belum selesai ia bicara, aku sudah terjatuh duluan. Sial!

“Ha Ha Ha
Sudah saya bilang, tidak usah bantu.”, laki-laki sebayaku itu menertawakan ku.

Kenapa ia tertawa? Kurang ajar!

Read More

']); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })();