Page #12
Resolusi. Mungkin aku tak butuh. Lebih tepatnya tak memikirkan itu. Aku pernah menulisnya. Tapi hanya tergantung dilangit-langit, menguning, karat oleh waktu. Lalu jatuh, membaur bersama sampah dunia. Satu tahun yang lalu, dan sekarang itu pun datang lagi. Resolusi.
Tadi malam seseorang memperlihatkan kepunyaannya padaku. Resolusi bersama. Aku pikir itu berlebihan, berlebihan untuk mereka perlihatkan padaku. Aku lebih baik tak punya itu. Hanya membuatku semakin terjerembap dalam lingkaran diri.
Pernah suatu ketika seorang temanku hilang diri. Seperti aku sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Ingin ku katakan kita pernah dalam kondisi itu, tak terkecuali kau yang membaca ini.
Berbeda denganku, semua orang melihatnya, melihat kau hilang dari dirimu. Kau beruntung, mereka datang pada waktu yang tepat, dan menyelamatkanmu. Beda jauh denganku, yang tak terlihat sama sekali. Hingga aku pun menemukan sendiri jalanku, jalan gelap yang sempit. Gelap karena tak ada cahaya dari mereka yang kuharapkan. Sempit karena aku sendiri menanggungnya. Mereka melihatku baik-baik saja. Aku pun tak berharap memikirkanku.
Resolusi. Aku sudah mencoba menghindarinya. Tak mengingatnya, dan tak menyentuhnya. Tapi tangan ini tak bisa ku larang menyentuhnya. Satu sisi yang tak bisa ku kalahkan. Hanya ada beberapa orang yang tahu tentang ini, tapi mereka pergi begitu saja mencampakkan harapan yang ku taruh. Mungkin mereka berbuat baik, tapi aku tak menemukan kebaikan pada diriku yang sekarang.
Aku semakin terpuruk. Berusaha menggapai rasa sesal dalam diri untukku cabik-cabik. Semakin ku gapai, semakin ku tercabik. Tak ada yang peduli. Hingga ia datang, mengubah semua. Semua seolah terang dan lapang. Aku berseloroh sendiri, “Mungkinkah ini terjadi di dunia nyata?” Setauku hanya ada di Anime yang sering kubaca.




